Jumat, 06 Januari 2012

Makalah Bahasa Indonesia "Kerangka Karangan dan Alinea"





KATA PENGANTAR



            Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul “Kerangka Karangan dan Alinea” ini dengan baik.

            Penyusunan Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia tentang “Kerangka Karangan dan Alinea”. Makalah ini bertujuan untuk mengasah keterampilan pembaca, selain itu juga untuk menambah wawasan tentang pengetahuan Bahasa secara meluas. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini. Akhirnya kami menyadari bahwa Makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati, kami menerima kritik dan saran agar penyusunan Makalah selanjutnya menjadi lebih baik. Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih dan semoga karya tulis ini bermanfaat.
            Akhir kata penulis ucapkan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua .
            Selamat belajar.









                                                                                    Serang, Desember 2011



                                                                                                Penulis


                                                    BAB I     
PENDAHULUAN


1.1              Latar Belakang
Pada umumnya kerangka karangan merupakan rencana garis besar karangan berdasarkan tingkat kepentingannya (teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan), serta pedoman bagi pembaca untuk mengetahui isi suatu karangan. Kerangka karangan yang belum final disebut outline sementara, sedangkan kerangka karangan yang sudah tersusun rapi dan lengkap disebut outline final. Didalam Bahasa Indonesia penulisan kerangka karangan membantu penulis untuk melihat gagasan-gagasan dalam sekilas pandang, sehingga dapat dipastikan apakah susunan dan hubungan timbal-balik antara gagasan-gagasan itu sudah tepat, apakah gagasan-gagasan itu sudah disajikan dengan baik, harmonis dalam perimbangannya.
Kerangka karangan merupakan miniatur atau prototipe dari sebuah karangan. Dalam bentuk miniatur ini karangan tersebut dapat diteliti, dianalisis, dan dipertimbangkan secara menyeluruh, bukan secara terlepas-lepas.

1.2               Rumusan Masalah
Setelah kita tinjau rumusan masalahnya adalah :
1. Apa pengertian kerangka karangan ?
2. Bagaimana bentuk-bentuk kerangka karangan ?
3. Apa saja pola susunan kerangka karangan ?
4. apa saja macam – macam kerangka karangan ?
5. Apa pengertian Alinea ?

1.3              Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Agar kita dapat membuat kerangka karangan yang baik, benar dan logis.
2. Kita dapat membedakan mana yang gagasan utama dan mana yang termasuk gagasan tambahan.
3. kita juga menghindari penggarapan sebuah topik sampai dua kali atau lebih.

1.4        Metode Penelitian
Metode yang digunakan penulis dalam mencari atau mengumpulkan data ini menggunakan metode kepustakaan. Dimana metode ini pengumpulan data dengan cara mengkaji dan menelaah data dari internet.



BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Outline (Kerangka Karangan)
            Berikut ini pengertian dari outline (Kerangka Karangan) adalah sebagai berikut :

2.1.1 Pengertian Outline
            Pengertian Outline menurut bahasa adalah : kerangka, regangan, garis besar, atau guratan. Jadi Outline merupakan rencana penulisan yang membuat garis – garis besar dari suatu karangan yang akan digarap dan merupakan rangkaian ide – ide yang disuusn secara sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan teratur.

2.1.2 Pengertian Kerangka
            Karangan merupakan karya tulis hasil dari kegiatan seseorang untuk mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada pembaca untuk dipahami. Lima jenis karangan yang umum dijumpai dalam keseharian adalah narasi, deskripsi, eksposisi, argumentasi, dan persuasi.

2.1.3 Pengertian Kerangka Karangan
            Kerangka karangan adalah rencana teratur tentang pembagian dan penyusunan gagasan. Kerangaka karangan yang belum final disebut outline sementara sedangkan kerangka karangan yang sudah tersusun rapi dan lengkap disebut outline final. Kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis – garis besar dari suatu karangan atau tulisan yang akan ditulis atau dibahas, susunan – susunan sistematis dari pikiran – pikiran utama dan pikiran – pikiran penjelas yang akan menjadi pokok tulisan. Kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis – garis besar dari suatu karangan atau tulisan yang akan ditulis atau dibahas, susunan sistematis dari pikiran-pikiran utama dan pikiran-pikiran penjelas yang akan menjadi pokok tulisan, atau dapat juga didefinisikan sebagai satu metode dalam pembuatan karangan yang mana topiknya dipecah kedalam sub-sub topik yang lebih terperinci.


2.2 Bentuk kerangka karangan
            Kerangka karangan ada dua macam: (1) kerangka topik, dan (2) kerangka kalimat. Dalam praktik pemakaian, kerangka yang banyak dipakai adalah kerangka topik.
            Kerangka topik terdiri atas kata, frasa dan klausa yang didahului tanda – tanda yang sudah lazim untuk menyatakan hubungan antargagasan. Tanda baca akhir (titik) tidak diperlukan karena kalimat lengkap tidak dipakai dalam kerangka topik.
            Kerangka kalimat lebih bersifat resmi, berupa kalimat lengkap. Pemakaian kalimat lengkap menunjukkan diperlukannya pemikiran yang lebih luas dari yang dituntut dalam kerangka topik. Tanda baca titik harus dipakai pada akhir setiap kalimat yang dipakai untuk menuliskan judul bab dan subbab. Kerangka kalimat banyak dipakai pada proses awal penyusunan outline. Bila outline telah selesai, kerangka kalimat itu dapat dipadatkan menjadi kerangka topik, demi kepraktisan. Jadi, kerangka dapat saja berbentuk gabungan kerangka kalimat dan kerangka topik. Walaupun pemakaian kerangka topik lebih dominan, tidaklah dipantangkan untuk dicampur dengan  kerangka kalimat, meski hanya untuk penulisan judul – judul bab.
            Kerangka dibentu dengan sistem tanda atau kode tertentu. Hubungan diantara gagasan yang ditunjukkan oleh kerangka dinyatakan dengan serangkaian kode yang berupa huruf dan angka. Judul biasanya didahului angka tertentu (misalnya angka Romawi), sedangkan subbab menggunakan huruf kapital, lalu untuk anak bab menggunakan angka Arab. Ada juga kerangka yang hanya menggunakan angka Arab, jika karangannya singkat. Angka Arab juga dapat digabung dengan huruf kecil (lower case) jika karangannya tidak terlalu panjang, misalnya untuk makalah atau artikel sederhana. Kode – kode itu akan lebih kompleks dalam karangan yang besar seperti skripsi, tesis, disertasi, dan buku.
            Agar karangan terstruktur rapi, pengarang harus membagi – bagi gagasan dan menempatkannya sedemikian rupa dalam bab dan subbab. Kaidah pembagian yang perlu diingat adalah segala sesuatu yang terdapat dibawah suatu tanda harus berhubungan langsung dan takluk kepada yang membawahkannya.

2.3 Pola Susunan Outline (Kerangka Karangan)
Ada dua pola terpenting yang lazim dipakai untuk menyusun kerangka karangan, yaitu (1) pola alamiah, dan (2) pola logis. Pola pertama disebut alamiah karena penyusunan unit – unit bab dan subbabnya memakai pendekatan alamiah yang esensial, yaitu ruang (tempat) dan waktu. Pola kedua dinamakan pola logis karena memakai pendekatan berdasarkan jalan pikiran atau cara berpikir manusia yang selalu mengamati sesuatu berdasarkan logika (masuk akal atau tidak).

1.     Pola Alamiah
Seperti yang telah diuraikan diatas, penyusunan kerangka karangan yang berpola alamiah mengikuti keadaan alam yang berdimensi ruang dan waktu. Oleh karena itu, urutan unit – unit bab dan subbab dalam kerangka pola alamiah dapat dibagi dua, yaitu (1) urutan ruang, dan (2) urutan waktu. Yang dimaksud dengan urutan adalah pola penguraian yang menggambarkan keadaan suatu ruang : dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, dan seterusnya; sedangkan urutan waktu adalah penguraian berdasarkan urutan kejadian suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa secara kronologis.
a)    Urutan Ruang
Urutan ruang dipakai untuk mendeskripsikan suatu tempat atau ruang, umpamanya kantor, gedung, stadion, lokasi/wilayah tertentu. Urutan ini biasanya di gunakan dalam tulisan–tulisan yang bersifat deskriptif .
Contohnya : Topik (hutan yang sering mengalami kebakaran)
• Di daerah Kalimantan
• Di daerah Sulawesi
• Di daerah Sumatra
b)   Urutan Waktu
Urutan waktu dipakai untuk menarasikan (menceritakan) kronologi suatu peristiwa/kejadian, baik yang berdiri sendiri maupun yang merupakan rangkaian peristiwa. Kerangka karangan tentang sejarah dan otobiografi pastilah memakai urutan waktu. Agar tidak membosankan, urutan waktu dalam biografi, misalnya dapat divariasikan dengan susunan terbalik atau sorot balik, dari akhir peristiwa mundur ke awal peristiwa (flashback). Perhatikan contoh kerangka karangan yang memakai urutan waktu dibawah ini.
            Topik : Riwayat Hidup Rabindranath Tagore
1.      Jatidiri Rabindranath Tagore
2.      Pendidikan Rabindranath Tagore
3.      Karier Rabindranath Tagore
4.      Akhir Hidup Rabindranath Tagore

Berdasarkan kerangka itu dapat dibuatkan karangan singkat yang terdiri atas satu alinea; dapat diperluas menjadi empat alinea; bahkan dapat diperluas menjadi satu buku yang terdiri atas empat bab. Begitulah pentingnya membuat kerangka karangan sebelum mengarang.

2.     Pola Logis
Telah disebutkan bahwa pola logis memakai pendekatan berdasarkan cara berpikr manusia. Cara berpikir ada beberapa macam dan pendekatannya berbeda – beda bergantung pada sudut pandang dan tanggapan penulis terhadap topik yang akan ditulis. Itulah sebabnya dalam kerangka pola logis timbul variasi penempatan unit – unit. Pola logis dapat dibagi menjadi 6, yaitu :
a.       Klimaks dan Antiklimaks
Urutan ini timbul sebagai tanggapan penulis yang berpendirian bahwa posisi tertentu dari suatu rangkaian merupakan posisi yang paling tinggi kedudukannya atau yang paling menonjol.
Contoh : Topik (turunnya Suharto)
• Keresahan masyarakat
• Merajalela nya praktek KKN
• Keresahan masyarakat
• Kerusuhan social
• Tuntutan reformasi menggema
b.      Kausal
Mencakup dua pola yaitu urutan dari sebab ke akibat dan urutan akibat ke sebab . Pada pola pertama suatu masalah di anggap sebagai sebab, yang kemudian di lanjutkan dengan perincian–perincian yang menelusuri akibat–akibat yang mungkin terjadi. Urutan ini sangat efektif dalam penulisan sejarah atau dalam membicarakan persoalan–persoalan yang di hadapi umat manusia pada umumnya.
Contoh : Topik (krisis moneter melanda tanah air)
• Tingginya harga bahan pangan
• Penyebab krisis moneter
• Dampak terjadi krisis moneter
• Solusi pemecahan masalah krisis moneter
c.        Pemecahan Masalah
Di mulai dari suatu masalah tertentu, kemudian bergerak menuju kesimpulan umum atau pemecahan atas masalah tersebut . Sekurang-kurangnya uraian yang mempergunakan landasan pemecahan masalah terdiri dari tiga bagian utama, yaitu deskripsi mengenai peristiwa atau persoalan tadi, dan akhirnya alternatif–alternatif untuk jalan keluar dari masalah yang di hadapi tersebut.
Contoh : Topik (virus flu babi / H1N1 dan upaya penanggulangannya)
• Apa itu virusH1N1
• Bahaya virus H1N1
• Cara penanggulangannya
d.      . Umum khusus
Dimulai dari pembahasan topik secara menyeluruh (umum), lalu di ikuti dengan pembahasan secara terperinci (khusus).
Contoh : Topik (pengaruh internet)
• Para pangguna internet
o Anak–anak
o Remaja
o Dewasa
• Manfaat internet
o Media informasi
o Bisnis
o Jaringan social
o Dan lain–lain
e.       Familiaritas
Urutan familiaritas dimulai dengan mengemukakan sesuatu yang sudah di kenal, kemudian berangsur–angsur pindah kepada hal–hal yang kurang di kenal atau belum di kenal. Dalam keadaan–keadaan tertentu cara ini misalnya di terapkan dengan mempergunakan analogi.
f.       Akseptabilitas
Urutan akseptabilitas mirip dengan urutan familiaritas. Bila urutan familiaritas mempersoalkan apakah suatu barang atau hal sudah dikenal atau tidak oleh pembaca, maka urutan akseptabilitas mempersoalkan apakah suatu gagasan di terima atau tidak oleh para pembaca, apakah suatu pendapat di setujui atau tidak oleh para pembaca.
                                      
2.4 Macam-macam Outline (Kerangka Karangan)

Macam – macam kerangka karangan tergantung dari dua parameter yaitu : berdasarkan sifat perinciannya, dan kedua berdasarkan perumusan teksnya.

A. Berdasarkan Perincian

Berdasarkan perincian yang di lakukan pada suatu kerangka karangan, maka dapat di bedakan kerangka karangan sementara ( informal ) dan kerangka karangan formal.

1) Kerangka Karangan Sementara / Non-formal
Cukup terdiri atas dua tingkat, dengan alasan:
a) Topiknya tidak kompleks
b) Akan segera digarap

2) Kerangka Karangan Formal:
Terdiri atas tiga tingkat, dengan alasan:
a) Topiknya sangat kompleks
b) Topiknya sederhana, tetapi tidak segera digarap

Kerangka Karangan Sementara

Kerangka karangan sementara atau informal merupakan suatu alat bantu, sebuah penuntun bagi suatu tulisan yang terarah. Sekaligus ia menjadi dasar untuk penelitian kembali guna mengadakan perombakan – perombakan yang di anggap perlu. Karena kerangka karangan ini hanya bersifat sementara, maka tidak perlu di susun secara terperinci. Tetapi, karena ia juga merupakan sebuah kerangka karangan, maka ia harus memungkinkan pengarangnya menggarap persoalannya secara dinamis, sehingga perhatian harus di curahkan sepenuhnya pada penyusunan kalimat – kalimat, alinea – alinea atau bagian – bagian tanpa mempersoalkan lagi bagaimana susunan karangannya, atau bagaimana susunan bagian – bagiannya.

Kerangka karangan informal ( sementara ) biasanya hanya terdiri dari tesis dan pokok – pokok utama, paling tinggi dua tingkat perincian. Alasan untuk menggarap sebuah kerangka karangan semntara dapat berupa topik yang tidak kompleks, atau karena penulis segera menggarap karangan itu.

Kerangka Karangan Formal
Kerangka karangan yang bersifat formal biasanya timbul dari pertimbangan bahwa topik yang akan di garap bersifat sangat kompleks, atau suatu topik yang sederhana tetapi penulis tidak bermaksud untuk segera menggarapnya.

Proses perencanaan sebuah kerangka formal mengikuti prosedur yang sama seperti kerangka informal. Tesisnya di rumuskan dengan cermat dan tepat, kemudian di pecah – pecah menjadi bagian – bagian bawahan ( sub – ordinasi ) yang di kembangkan untuk menjelaskan gagasan sentralnya. Tiap sub – bagian dapat di perinci lebih lanjut menjadi bagian – bagian yang lebih kecil. Sejauh di perlukan untuk menguraikan persoalan itu sejelas – jelasnya. Dengan perincian yang sekian banyak, sebuah kerangka karangan dapat mencapai lima atau tiga tingkat perincian sudah dapat di sebut kerangka formal.

B. Berdasar Perumusan Teksnya
1) Kerangka Kalimat
2) Kerangka Topik
3) Gabungan antara Kerangka Kalimat dan Kerangka Topik


2.5 Pengertian Alinea
Alinea adalah satuan bentuk bahasa yang umumnya merupakan gabungan beberapa kalimat.  Alinea tidak lain adalah suatu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Alinea merupakan himpunan yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan.
Oleh karena itu, pembentukan sebuah alinea sekurang-kurangnya mempunyai tujuan :
1) Memudahkan pengertian dan pemahaman dengan menceraikan suatu tema dari tema yang lain
2) Meningkatkan konsentrasi terhadap tema alinea dengan memisahkan dan menegaskan perhatian secara wajar dan formal pada akhir kalimat











BAB III
PENUTUP


3.1 Kesimpulan


Di dalam Bahasa Indonesia untuk membuat suatu penulisan ilmiah harus membuat Outline (Kerangka Karangan) dimaksudkan agar penulisan ilmiah tersebut terarah dan sesuai dengan yang diharapkan karena kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan atau tulisan yang akan ditulis atau dibahas. Susunan sistematis dari pikiran – pikiran utama dan pikiran – pikiran penjelas yang akan menjadi pokok tulisan.

  • Bentuk Outline (kerangka karangan) ada dua macam : kerangka topik, dan kerangka kalimat
  • Penyusunan Outline (kerangka Karangan) secara garis besar dapat dilakukan dengan menggunakan pola alamiah dan pola logis.
  • Macam-macam Outline (kerangka karangan) berdasarkan atas : sifat rinciannya dan berdasar perumusan teksnya.
  • Alinea adalah satuan bentuk bahasa yang umumnya merupakan gabungan beberapa kalimat.



3.2  SARAN

















DAFTAR PUSTAKA



Arifin, E.Zaenal dan S.Amran Tasai. 2006. Cermat Berbahsa Indonesia Untuk
Perguruan Tinggi. Jakarta : CV Akademika Pressindo.

Finoza, Lamuddin. 2008. Komposisi Bahasa Indonesia.
Jakarta : Diksi Insan Mulia.

http://id.wikipedia.org/wiki/Karangan

http://farchanbinadnan.blogspot.com/2009/12/membuat-kerangka-karangan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar